Langsung ke konten utama

Postingan

Berderet jerit mendera

Berderet tetamu siap menyambut kepeningan tuan rumah
Mulai dari rasa ngilu hingga nyeri kalbu turut serta
Hidup jadi terdengar nikmat di sela-sela rasa susah
Hadapi perangai aneh yang datang tiba-tiba
Seenaknya saja memberikan peralatan mewah
Ditaruh sekena hati mana suka
Ditata tanpa izin sesiapa
Tuan rumah hanya boleh gigit muka
Nelangsa

Satu suara bisa menyulut air ludah
Lihai mengelak bersilat lidah
Lupa jika tuan rumah punya hak kuasa
Usir harap untuk melawan derita
Asasi manusia

Tapi tenanglah saja
Pintu duka sudah tiada
Berhasil dijebol oleh rela yang terpaksa
Tuan rumah sudah dipaksa lapang dada
Terima semua laku mengiba
Derita jerit mendera


Postingan terbaru

Peringatan di Satu Oktober

Peringatan datang bergantian
Hampir rata di Pulau tenar Nusantara
Pada hari disaat warga Indonesia upacara
Peringatan kesaktian Pancasila namanya
Mau apa?
Getaran gempa Lombok masih pedih terasa
Para korban masih tinggal di pengungsian
Masa krisis masih terasa tragis
Tetiba datang lagi berita mirisMau bagaimana?
Sakitnya Palu begitu memekakkan mata
Mulai goyangan gempa, luapan tsunami hingga semburan lumpur telah luluh lantakkan segala
Seketika sekejap mataKorban terhitung hingga ribuan
Terdampar air bah
Tertimbun tanah rata
Tertimpa ambrukan bangunan
Mengerikan Mau kemana?Hanya seketika juga
Bencana telah bergerak ke arah Jawa
Blitar bergetar
Cirebon juga gemetar
Palu pun masih terselimuti kelam
Gempa masih terus menghantam
Tetiba Krakatau pun terkabar ikut semburkan pijar

Mau kapan?

Terserah

Ragam ruam terpesona raut muka
Efek dari geliat hati yang sedang membuncah
Kritikan itu luluhkan pecundang dunia
Hasilkan pertunjukan tak berfaedah

Kilas balik sungguh menohok luka
Menganggap semua harus bergerak sekejap petuah
Garap manfaat tanpa sesadar iba
Rusak pula warna goresan berkah

Patutlah datang menangisi seonggok hamba
Luapkan nestapa yang sedang payah
Wirid diurai oleh derasan kata duka
Gelar peraduan di pinggir muara gegabah

Sementara kail sedang dirajut renta
Saling dikait tanpa bantuan pongah
Mengharap masih ada kuncup bahagia
Agar sewaktu-waktu mau merekah

Demikian racauan tutur kata
Kernyitkan pening para pemintal desah
Tak begitu berguna
Terserah


Ketika Ayah Berkisah

Sebuah kesempatan yang langka di masa sekarang
Duduk bersama untuk jagongan dengan ayah tersayang
Berbagi kisah seputar dunia yang berkembang
Siapkan amunisi dengan suara yang lantangKali ini tentang tetamu yang tak mau bergegas pulang
Mereka merasa kerasan tak peduli kata orang
Sudah berbulan-bulan menempati hotel berbintang
Layaknya jutawan yang sedang hamburkan uang
Padahal disana adalah wilayah terlarang Berbagai petuah sudah dicoba terdendang
Mulai dengan gaya yang tenang  sampai agak menyimpang
Berharap mereka segera angkat kaki sekarang
Pergi kembali pulangNamun kesabaran masih perlu terkembang
Menyeruak wangi menyebarkan rasa tenang
Menghadapi raut mereka yang sedang bimbang
Mau tetap tinggal atau lanjut berpetualang Siasat diubah dengan ide cemerlang
Hasil dugaan yang sempat  berbincang
Rekayasa dari rumusan pola berbilang
Semoga bisa menangTak dirasa ternyata hari sudah petang
Ayah pamit izin menyudahi bincang-bincang
Giliran aku mencerna sekarang
Apa pesan dari cuplika…

Kesempatan Sebelum Pemberhentian

Segala puja puji hanya untuk Sang Maha Terpuji yang masih  memberikan kesempatan kepada saya dan para makhluk bernyawa lainnya untuk terus menebar kebermanfaatan di bumi.Jarum jam yang terus berdetik tanpa dirasa sudah menunjukkan waktu dini hari, pertanda rupa tanggal juga akan berganti.Pada kesempatan kali ini, saya sedang merasa terinspirasi dengan komitmen yang sedang dijalankan oleh teman-teman dari komunitas ODOP untuk memulai lagi tantangan menulis setiap hari di media blog yang dimiliki. Tanpa terduga, setelah sekian lama buaian kemalasan membuat saya terlena untuk terus mengambil alasan cuti dari kegiatan tulis menulis ini.Memang benar adanya, tergabung dalam sebuah komunitas yang para anggotanya mempunyai beberapa keperluan yang sama akan mampu menularkan semangat untuk terus melakukan yang terbaik demi tercapainya keperluan tersebut. Sebut saja saya begitu sering mendapatkan ilmu sekaligus percikan semangat untuk terus menebar kebermanfaatan dengan sebuah karya dari komunit…

Tersapa Amal

Tersapa suara keniscayaan
Dirindu rasa penasaran
Memandang manja kekaguman
Berbelai rayu keberuntungan Panas dingin jemari merasakan gempita
Tanggapan dari kemelut detak prahara
Membuncah tanpa mau memberi jeda
Pada sekelumit asa yang tertindih nestapaNiatan mulia pantas diperketat
Berdampingan dengan jiwa yang sehat
Bebaskan dari kompetisi cacat
Kepalkan tekad sebelum darurat Tersungkur tak perlu risau
Tersingkir jauh malas merantau
Terima saja bisikan parau
Tanda tujuan segera terlampau Bayangkan awan kelabu menggumpal
Berderet-deret sembunyikan sebal
Buat hujan menyoraki sesal
Biasakan pelangi menebar amal


Engkaulah Ayah

Engkaulah
Perisaiku yang gagah
Penampung cuitan desah
Penawar keluh kesahMeski raut menampakkan lelah
Tetap kau sempatkan petuah
Tak tega melihatku susah
Buah hatimu yang selalu lemahPagi sudah membuat duka
Siang berlalu tanpa berita
Sore terkapar manja
Malam kuakhiri dengan deritaKetika celaka berbuat salah
Memaksaku bertindak gegabah Obat manjur kutelan mentah
Tangis kerap iringi langkahBebal selalu datang menyerta
Muak mungkin kau enyahkan rasa
Saat hati gundah gulana
Bejibun siksa malah kubawaResah
Marah
Serapah
KalahLuka makin menganga
Cemas mencengkeram raga
Lupa lapang dada
Makin menderitaTapi manis datang berbuah
Ketika sadar terlihat indah
Terurai menjadi kisah
BersejarahPerkasa
Setia
Bersahaja
IbaSetiap celah
Selalu terpilah
Terlampau mudah
Terampunilah Curahkan setulus cinta
Maafkan segala dosa
Doakan setiap cita
Selalu tanpa dimintaAyah